Minggu, 04 Desember 2011

I Ketut Mario (Tokoh Seniman Tari)

I Ketut Mario di perkirakan lahir di Desa Belaluan, Denpasar, dan besar hingga dewasa di Banjar Lebah, Tabanan. Seorang bangsawan bernama Anak Agung Ngurah Made Kaleran yang sangat suka seni dan memberi perhatian serta dukungan kepada seniman-seniman dianggap sebagai bapak angkat oleh Mario. Mario pertama kali menjadi penari untuk kelompok Gong Pangkung di Tabanan. Tahun 1958 dia dan kelompok gong itu melawat ke Paris, Belanda, Amerika dan Kanada, dan di tahun 1962 mereka berkeliling Amerika.

Mario tidak hanya seorang penari, ia juga seorang pencipta tari. Kreasinya, Kebyar Duduk, atau jika ditarikan dengan trompong menjadi Kebyar Trompong, membawa revolusi dalam Calonarang dapat dikuasainya. Tariannya menawan, gerakannya berkarakter sehingga penggemar Calonarang mengaguminya. Setelah Sekeka Gong Pangkung terbentuk, Mario ikut bergabung dengan penari-penari seperti I Gusti Rai Geredeg, I Nengah Gawang, dan Wayan Cekeg.

Di sekeha gong inilah nama Mario mulai dikenal. Bakat yang dimiliki Mario di bidang tari dan tabuh berkembang sejak dia bergabung dalam Sekeha Gong Pangkung. Di sinilah Mario belajar, berlatih, kemudian mencipta. Ketekunannya membuahkan hasil. Tari Terompong, Tari Kebyar Duduk, Tari Oleg Tambulingan, Tari Sabungan Ayam, Tari Ngejuk Capung dan Tari Kakelik, merupakan hasil daya ciptanya yang diwariskan kepada dunia seni Bali. Kepekaan perasaan, imajinasi dan ketajaman pikiran I Ketut Mario dalam berkesenian telah menghasilkan karya yang membuat namanya abadi dalam dunia seni tari.


Tahun 1958 dia melanglang buana berkat karya seninya. Paris, Amsterdam, London, beberapa kota di AS dan Kanada telah menjadi saksi kepiawaiannya. Tahun 1962 kembali keliling Amerika bersama Sekeha Gong Pangkung. Di luar negeri “Mario” diberi julukan The Great Mario seperti yang dikutip Soedarsono (1953) dalam (naskah) bukunya, namun buku itu tidak dipublikasikan. Selain sebagai guru tari, Mario pernah pula bekerja di instansi Pemerintah Belanda (1938), yakni di Kantor Landschap Tabanan selanjutnya pindah ke Kantor Pengadilan. Mario menikah dengan Ni Made Jereg (kemudian dipanggil Men Rikan) namun tidak dikaruniai anak. Ia lalu mengangkat seorang anak bernama Putu Kerta (meninggal tahun 1993).

Karya Mario sekarang hampir tiada tandingannya, khususnya Tari Oleg Tambulilingan. Kalau ada pementasan tari bali di hotel-hotel, Tari Oleg Tambulilingan sering menjadi salah satu sajian. Tarian ini mengesankan suatu keindahan yang romantis, gerak-gerik meliuk-liuk, lemah gemulai seorang putri cantik. Sedangkan Tambulilingan penari laki dengan penampilan gerak tari putra bebancihan menari dengan gagahnya sesuai dengan gerak-gerak Tambulilingan (kumbang) di taman bunga. Tari ini menggambarkan sepasang kumbang (jantan dan betina) sedang mengisap sari bunga di taman, berterbangan ke sana ke mari sambil berkejar-kejaran. Kumbang jantan dan betina memadu kasih dengan suasana romantis di taman bunga. Penonton yang menyaksikan akan diajak berimajinasi dalam suasana romantis.


Deskripsi Profesi:
• Seniman Tari


Penghargaan:
• Penghargaan yang diterima dari pemerintah: Piagam Wijaya Kesuma dari
Presiden RI (17 Agustus 1961) • Piagam Darma Kesuma dari Gubernur Bali
(17 Agustus 1980) • Piagam Kesuma dari Bupati Tabanan (2 Oktober 1980)
• Piagam Tanda Kehormatan Presiden Republik Indonesia sebagai seorang
seniman (6 November 2003)

Sumber kebudayaan.denpasarkota.go.id
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...